Minggu, 05 Mei 2013

PETANI INDONESIA ITU LUAR BIASA


PETANI INDONESIA ITU LUAR BIASA

Siapa yang bilang petani Indonesia jelek, siapa yang bilang petani Indonesia terpuruk dan siapa yang bilang petani Indonesia tidak professional ???
Petani Indonesia itu luar biasa, ......!
Negeri kita adalah negeri agraris, duluuu!, mayoritas penduduknya adalah petani dan kita merupakan bagian dari mereka dan memang kita  produk masa lalu (petani) Lalu apa yang menjadikan petani Indonesia itu luar biasa, mari kita tengok:

Pertama;  Dengan lahan rata-rata 0,2 ha, petani kita bisa menghidupi keluarganya
Bukankah itu luar biasa ?. Dengan 2000 m2, petani kita bisa memaksimalkan hasil panennya, sehingga di dapatkan hasil panen/produksi yang tinggi. Dan itu cukup buat menghidupi keluarganya. Setahu saya, belum ada negara di dunia yang para petaninya dengan lahan terbatas bisa menghidupi keluarganya dari tahun ke tahun seperti petani kita.

Dengan daya tahan yang luar biasa ini, saya jadi ingat akan angggaran dari pemerintah yang jumlahnya puluhan triliun/tahun. Andai, dalam 3 tahun saja, 50 % dari dana tersebut dibelikan/dicetak lahan sawah baru. Atau membeli lahan sawah yang mau dijual petani. Atau membeli kembali  lahan para petani yang terpaksa sudah dijual kepada pihak lain. Tentu masalah pangan akan cepat diselesaikan

Persoalan lahan sebetulnya mudah untuk diselesai. Memang, banyak program yang digulirkan pemerintah. Tapi menurut saya, persoalan dasarnya adalah kepemilikan lahan. Sekali lagi : Petani ingin punya lahan yang bisa digarap. Syukur-syukur bisa dibeli lagi oleh para petani. “Tidak apa-apa, tanah garapan saya milik negara. Asal saya jangan digusur. Akan saya bayar sewanya kok,,,,” ungkap petani yang menggarap sawah milik PT.

Petani tidak neko-neko. Para petani hanya butuh lahan yang lebih luas, agar hasil panennya dapat banyak. Ingat Mas Bro, para petani tidak pernah menuntut macam-macam. Mereka tiap tahun tidak  menuntut minta kenaikkan UMR. Justru, para petani akan membayar sewa lahan milik Negara. Luar biasa bukan?

Oleh sebab itu, dibutuhkan pemimpin yang punya visi ke depan. Pemimpin yang mau memperjuangkan nasib hidup  petani. Pemimpin yang mau membuka lahan sawah baru. Pemimpin yang mau mencetak lahan-lahan/sawah baru yang akan hilang tapi jangan membuat lahan gambut sejuta hektar seperti jaman orde baru dulu, bisi gagal total uang rakyat triliunan rupiah lenyap entah kemana, inilah yang namanya uang setan dimakan jin, iya toh!!!!

Kedua; produktivitas hasil panen tinggi
Dalam satu hamparan padi, sewaktu selesai panen, ada beberapa petani dapat hasil panen di  MT-1. Kita ambil contoh; petani A dapat hasil panen 6 ton/ha. Petani B dapat 7,5 ton. Petani C dapat 4,5 ton/ha, petani  D mendapat 7 ton/ha dan petani E dapat 8,5 ton/ha. Kata “dapat hasil panen” persamaannya adalah “produksi”. Nah, bagitu dirata-ratakan  dari ke-5 petani tsb maka didapatkan kata produktivitas. Coba bandingkan dengan negara lain, produktivitas petani padi Indonesia lebih tinggi  57 % di atas India. 76 % di  atas Thailand. Sekali lagi di atas Thailand, yang seakan-akan dikenal dengan dunia pertaniannya.

Dan kita dicekoki dengan kata-kata ini : BANGKOK !!!. Apa-apa Bangkok,  durian Bangkok, jambu, dll. Tapi, tidak ada: PADI BANGKOK !!! Trus, 58 % di atas Myanmar. Dan 48 % di atas Filipina. Bagaimana dengan Malaysia? Jauh sekali Bro..!   Data-data itu saya dapatkan dari Pak Sumarno dari Sinar Tani Edisi 24/2010

Ketiga; Luas panen per kapita kecil 550 m2/kapita tapi mampu menghasil
kan 170 kg/kapita
Untuk menghitungnya, jumlah luas panen padi seluruh Indonesia dibagi dengan jumlah penduduk Indonesia. Maka didapatkan hasil sekitar 550 m2/kapita. Itu artinya diasumsikan setiap orang di Indonesia memiliki lahan 550 m2. Tapi dengan luas lahan Cuma 550 m2 dapat dihasilkan sekitar 170 kg beras.Coba bandingkan dengan Negara lain seperti Thailan 1.570 m2/kapita, Vietnam 866 m2/kapita, dan Myanmar  1.500 m2/kapita.

Keempat; petani kita mempunya kebiasaan memberi nama baru bagi varietas padi.
Dan ini yang unik. Ada di tiap daerah, bila ada varietas baru dan hasilnya bagus. Maka akan keluar nama-nama varietas baru. Padahal mereka tidak melakukan penyilangan. Mereka (sebagian kecil petani) dengan seenak udelnya, memberi nama-nama baru : shogun, cisadane,ciherang dempu, ciherang doyok, ciherang brunai, ah pokoknya macam macam

Kelima, mari kita berdamai dengan nurani kita sendiri..........

Artikel yang lainnya